Mana yang Lebih Unggul, Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Vokasi?
Mana yang Lebih Unggul, Sekolah Menengah Atas atau Vokasi?
Seringkali menjadi perdebatan di
kalangan masyarakat, tak lain lagi tentang keterjaminan sekolah menengah atas
dan sekolah vokasi. Meskipun sama-sama dalam satu level Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas, sekolah menengah atas dan sekolah vokasi merupakan dua hal yang
berbeda, baik dari segi penerapan dan hasil yang akan didapatkan.
Kebanyakan siswa setelah lulus SMP
belum memiliki perencanaan matang sampai ke dunia perkuliahan atau dunia pekerjaan,
hal-hal seperti pemilihan “SMK atau SMA?” masih seringkali dianggap remeh,
padahal pengaruhya cukup besar untuk ke depannya. Berbicara soal efektivitas,
dua-duanya sama-sama memiliki keefektifan yang besar di masa depan, tergantung
siapa yang memilihnya.
Setidaknya
ada dua hal yang menjadi pertimbangan, teori atau praktik? Memilih untuk
melanjutkan ke sekolah menengah atas akan memberikan banyak keuntungan.
Diantaranya, (1) Peluang untuk melanjutkan ke dunia perkuliahan lebih besar
dibanding sekolah vokasi, hal tersebut sangat wajar jika terjadi. Di sekolah
menengah atas, siswa ditekankan untuk mempelajari banyak teori dari berbagai
macam mata pelajaran, kejuruannya belum jelas, sehingga universitas memiliki
banyak pertimbangan dari nilai-nilai yang didapatkan oleh perserta didik untuk
ditempatkan di jurusan perkuliahan.
(2)
Sekolah menengah atas akan sangat cocok bagi peserta didik yang masih
mencari-cari keahliannya. Dari banyaknya mata pelajaran yang akan mereka
dapatkan, dirasa waktu 3 tahun akan cukup bagi mereka untuk mengetahui di
bidang apa keahliannya. Terlebih lagi bagi mereka yang sangat labil, akan ada
lebih banyak kesempatan untuk berubah pikiran.
(3)
Cakupan yang didapatkan sangat luas, di sekolah menengah atas, peserta didik
mendapatkan banyak kebebasan. Mereka dituntut untuk melanjutkan ke jenjang
perkuliahan, sehingga membutuhkan penguasaan yang cukup luas di beberapa mata
pelajaran tertentu yang pastinya tidak hanya satu.
Namun,
sekolah vokasi tidak kalah menguntungkan di masa depan. Di antaranya, (1)
Peserta didik dapat memusatkan fokusnya pada satu bidang, sehingga tidak
terdistraksi oleh bidang-bidang lainnya. Sehingga peserta didik dapat menekuni
bidang tersebut dan akan lebih siap nantinya di dunia kerja. Artinya, sekolah
vokasi lebih menjurus ke arah praktik dan implementasinya secara langsung.
(2)
Sekolah vokasi menyediakan tahap ‘magang’, di mana nantinya peserta didik tidak
lagi merasa kaget saat terjun di dunia kerja. Sekurang-kurangnya, mereka telah
memiliki pengalaman dan bekal untuk nantinya. (3) Apabila mereka dihadapkan
dengan masalah untuk menunda atau bahkan tidak berkuliah, setidaknya mereka
memiliki bekal dan sertifikasi ‘magang’ untuk langsung bekerja.
Mana yang Lebih Unggul,
Sekolah Menengah Atas atau Vokasi?
Sekolah
menengah atas maupun sekolah vokasi memiliki satu tujuan yang sama, yaitu mempersiapkan
diri di dunia kerja kelak. Keduanya
sama-sama unggul sesuai dengan penerapan dan tujuannya masing-masing. Hal yang
perlu dipikirkan secara matang adalah “passion”. Apa itu passion? Secara
singkat, passion bisa diartikan minat, ketertarikan, atau keinginan yang
kuat untuk mencapai sesuatu. Passion seseorang bisa bermacam-macam. Passion
pada satu hal bisa dimanfaatkan sebagai jalan untuk mencapai kesuksesan di masa
depan. Dalam perjalanan hidup, akan ada passion yang terus tumbuh dan
berkembang. Ada pula passion yang tidak tumbuh dan tidak
berkembang yang kemudian akan hilang dengan sendirinya. Tumbuh atau tidaknya
passion tersebut biasanya dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, pendidikan,
dan pertemanan. Passion dapat diciptakan, gali, dan kembangkan kea arah
yang lebih positif.
Hubungan
antara passion dengan pemilihan sekolah menengah atas atau vokasi adalah
tujuan di akhir nanti, akankah meneruskan ke dunia perkuliahan atau ke dunia
kerja. Sekolah menengah atas cenderung diperuntukkan bagi peserta didik yang
akan melanjutkan ke perguruan tinggi, sedangkan sekolah vokasi diperuntukkan
bagi peserta didik yang akan langsung terjun ke
dunia kerja.
Bagaimana
jika memilih SMA? Kebanyakan lulusan SMA cenderung langsung memilih kuliah
walaupun mereka belum tau tujuan hidup dan cita-citanya. Karena itulah, sangat
penting untuk memikirkan dan memutuskan dengan baik ke mana akan melanjutkan
pendidikan formal. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk
menentukan bidang pendidikan kuliah, di antaranya, tujuan atau cita-cita yang
ingin diraih, minat dan bakat, serta kemampuan diri dan finansial. Lalu,
bagaimana jika memilih SMK? Keahlian atau skill sangat penting dalam
persaingan di dunia kerja. Beberapa hal yang harus diperhatikan bagi peserta
didik yang akan melanjutkan ke sekolah vokasi dan kemudian bekerja, di
antaranya, kemampuan dan keahlian, motivasi, target, serta penentuan pekerjaan
yang diinginkan.
Dua
hal di atas memiliki sisi positif masing-masing, artinya, pemikiran jangka
panjang sangat diperlukan dalam hal ini. Keduanya sama-sama unggul dan menjamin
di masa depan. Melanjutkan ke sekolah menengah dan berkuliah belum tentu
menjamin, kebebasan yang diberikan justru membutuhkan pribadi yang mampu
beradaptasi, serta mampu mencari banyak peluang untuk ke depannya. Melanjutkan
ke sekolah vokasi dan kemudian bekerja juga belum tentu menjamin di masa depan.
Pribadi yang tekun, ulet, konsisten, dan mampu menciptakan progress dari skill
yang diambil akan sangat sesuai dengan program ini
Akhir
Kata
Sesuatu yang dapat disimpukan dari
permasalahan di atas tak lain adalah semuanya tergantung diri masing-masing.
Mengetahui apa yang sebenarnya diingkan dan apa yang dibutuhkan oleh diri
sendiri sangatlah penting. Kesiapan serta kesanggupan juga tak kalah penting.
Memilih SMA atau SMK bukan lagi hal remeh, hal ini justru menjadi sangat
krusial jika dihubungkan dengan ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi dan ketatnya
dunia kerja. Oleh sebab itu, pemikiran yang matang menjadi kunci di sini.
Selain itu, dengan lebih
memperhatikan masalah ini, penyesalan-penyesala para peserta didik di masa
depan akan perlahan berkurangan. Penyesalan tentang ketidaksesuaian skill
yang diambil, penyesalan tentang lingkungan SMA yang ternyata dianggap penuh
teori, dan lain sebagainya. Dengan demikian, ketika kita atau orang terdekat
berada di titik ini, kita sudah tau apa saja hal-hal yang harus diperhatikan
dan dipertimbangkan.
Daftar Pustaka
Ayodya,
Wulan. 2013. Mau Ke Mana Setelah SMA? Jakarta: Penerbit Erlangga
Permata,
Nilam. 2010. Tunjukkan Dirimu! Jakarta: Titian Ilmu
Komentar
Posting Komentar